Di awal kekuasaannya, Amangkurat I melakukan pembersihan terhadap
loyalis ayahnya sendiri yang berada di dalam lingkungan kraton maupun di
luar. Mereka dibunuh dengan cara yang sangat keji. Jumlahnya mencapai
tiga ribuan.
Menurut bisik-bisik orang kraton sendiri, Amangkurat I memiliki
kegemaran yang tidak lazim. Selain memiliki nafsu yang tak pernah
terpuaskan terhadap perempuan-perempuan muda, raja ini juga gemar
menyiksa rakyatnya. Bahkan sang raja menciptakan sendiri cara-cara
penyiksaan yang teramat sadis, terlebih kepada orang-orang yang
dicurigai hendak melawan kekuasaannya. Cara-cara penyiksaan ala
Amangkurat I di antaranya adalah:
Pertama, dari bagian atas telinga, kepala pesakitan dikuliti
sampai batok kepalanya terlihat. Orang-orang yang mendapat hukuman ini
kebanyakan meninggal dunia. Namun ada pula yang masih bisa bertahan
hidup walau kemudian akhirnya juga menemui ajal dengan amat menyakitkan.
Kedua, kaki pesakitan diikat, lalu digantung dengan posisi kepala
di bawah. Di bawah kepala, ditaruh panci panas berukuran besar berisi
minyak yang mendidih. Kemudian, kepala orang itu dicelupkan ke dalam
minyak yang bergolak sampai sebatas telinga hingga rambut dan kulit
kepalanya mengelupas. Semua yang mengalami siksaan jenis ini menemui
ajal karena sakit yang tak terperikan.
Ketiga, siksaan yang tak kalah menakutkan adalah si terhukum
diperintahkan untuk mengenakan topi besi yang tebal yang telah
dipanaskan hingga menjadi merah membara. Rambut akan hangus, kulit
kepala terkelupas dan gosong, dan otaknya akan terbakar. Tak ada yang
selamat dari jenis siksaan seperti ini.
Dan sore ini, sesuatu yang mengerikan sepertinya akan terjadi. Dyah
Jayengsari mendapati dirinya tidak sendirian. Dari berbagai arah, juga
berdatangan—mengalir bagai air bah—ribuan ulama, guru ngaji, anak-anak
santri dan santriwati, beserta seluruh keluarganya, yang seluruhnya
digiring dan dijaga ketat pasukan Mataram ke alun-alun. Semuanya
dikumpulkan di lapangan yang luas hingga tercipta lautan jubah putih.
Di tanah lapang itu mereka semua dikumpulkan menjadi satu. Semuanya,
tanpa kecuali, disuruh duduk bersila di atas tanah menghadap ke arah
timur di mana sebuah bukit yang tidak begitu tinggi tampak memanjang
searah dengan aliran Kali Opak. Ribuan orang itu, besar dan kecil, tua
dan muda, duduk di atas tanah dalam barisan yang diatur paksa oleh para
prajurit.
Di sekeliling lapangan, tiga lapis pasukan Mataram bersenjata pedang
dan tombak mengepung orang-orang itu dalam formasi siaga. Agaknya
Amangkurat I memerintahkan semua pasukannya mengepung alun-alun dengan
rapat, hingga tak ada celah untuk meloloskan diri.
Ketika hari sudah mulai gelap, ribuan ulama, santri, dan keluarganya
dilarang untuk menunaikan sholat maghrib. Para prajurit mengancam, siapa
pun yang ketahuan mengerjakan sholat, akan langsung ditebas lehenya.
Beberapa ulama tidak mengindahkan ancaman itu dan tetap mengerjakan
sholat, walau sambil duduk. Celakanya, hal itu diketahui para prajurit.
Tanpa ampun lagi, mereka memenggal leher beberapa ulama tersebut dengan
pedangnya. Jerit dan tangis segera pecah di tengah kerumunan massa.
Namun suasana dengan cepat jadi senyap kembali karena para prajurit itu
lagi-lagi mengeluarkan ancamannya akan melakukan hal yang sama jika ada
yang berani berteriak atau membuat ribut.
Dalam kesenyapan yang mencekam itu tiba-tiba semua mata melihat ke
arah pintu gerbang kraton yang menuju ke bukit di sebelah timur
alun-alun yang tanpak bercahaya. Dari gapura batu kali setinggi enam
meteran, serombongan orang dengan membawa tiang obor keluar dari dalam
kraton. Di belakang pasukan obor terlihat sepuluh orang anggota Trisat
Kenya, pasukan khusus pengawal raja yang semuanya terdiri dari perawan
cantik dengan pakaian lelaki bersulam emas, terlihat menyandang pedang
dan tombak. Di bawah cahaya ratusan obor, pasukan itu terlihat begitu
anggun dan gagah.
“Trisat Kenya…,” ujar Dyah Jayengsari lirih. Ayahnya hanya
mengangguk-anggukan kepalanya. Bibirnya yang sudah kering karena tidak
diberi air minum sejak berada di alun-alun, terus bergerak-gerak
melantunkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Bola kecil di tenggorokannya
terus bergerak-gerak tak pernah berhenti.
Ki Ageng Ludhira dan juga Dyah Jayengsari tahu, Trisat Kenya
merupakan pasukan khusus pengawal Susuhunan Amangkurat Agung I yang
semuanya terdiri dari para perawan cantik yang dibekali olah kanjuragan
tingkat tinggi. Disebut sebagai pasukan pengawal khusus karena tugas
seorang Trisat Kenya bukan saja bertanggungjawab terhadap keamanan dan
keselamatan fisik sang raja, namun juga wajib menjaga kewibawaan dan
melindungi rahasia sang raja dalam hal yang paling pribadi sekali pun.
Pasukan ini merupakan hal yang baru dalam tradisi Mataram Islam.
Adalah Kanjeng Ratu Ibu yang membentuk pasukan ini untuk menjaga
Amangkurat I. Sang Ibu sungguh-sungguh paham jika sejak kecil Amangkurat
I yang memiliki perangai buruk, memang punya banyak musuh. Jauh di
dalam hatinya, Kanjeng Ratu Ibu sesungguhnya menyesal dan meratapi
keberadaan Raden Mas Sayidin, nama kecil dari Susuhunan Amangkurat I,
yang bersifat kurang baik, beda dengan adiknya, Pangeran Alit.
Raden Mas Sayidin sangat temperamental, kekanak-kanakan, dan memiliki
kegemaran yang tidak masuk akal dan tidak terpuaskan terhadap
perempuan. Pada tahun 1637, ketika masih berstatus sebagai putra
mahkota, Raden Mas Sayidin sudah terlibat dalam skandal memalukan yang
melibatkan isteri seorang abdi dalem senior, Tumenggung Wiraguna.
Tumenggung kepercayaan Sultan Agung ini melaporkan hal itu kepada Sultan
Agung. Akibatnya Raden Mas Sayidin dihukum. Untuk beberapa lama, dia
dibuang ke hutan larangan.
Kejadian ini kelak menimbulkan dendam membara di dada putera mahkota
tersebut, sehingga di awal kekuasaanya, Raden Mas Sayidin yang telah
menjadi Susuhunan Amangkurat I membunuh Tumenggung Wiraguna dan seluruh
pengikutnya.
Namun sebagai seorang ibu, apa dan bagaimana pun juga perangai sang
anak, dia tetaplah harus menjaga dan melindungi anaknya, bahkan walau
nyawanya sendiri jadi taruhan. Itulah yang dilakukan Kanjeng Ratu Ibu
yang berinisiatif membentuk pasukan khusus pengawal raja.
Awalnya, Kanjeng Ratu Ibu—alias Ratu Wetan, puteri dari Tumenggung
Upasanta yang merupakan Bupati Batang keturunan dari Ki Juru
Martani—menginginkan sang raja dijaga prajurit lelaki pilihan. Namun
Amangkurat I sendiri menolaknya dan mengatakan dia tidak bisa
mempercayai laki-laki sedikit pun. Anaknya itu meminta agar seluruh
anggota pasukan pengawal khususnya hanya terdiri dari para perempuan
muda, masih perawan, dan tentu saja harus cantik.
“Mereka harus dilatih dengan keras agar terampil menggunakan senjata,
dan juga harus dibekali olah kanuragan yang mumpuni,” ujar Amangkurat I
kepada Kanjeng Ratu Ibu. “…dan tugas atau keanggotaan setiap Trisat
Kenya hanya akan berakhir manakala mereka dihadiahkan kepada para
adipati atau bawahanku.”
Sang ibu hanya bisa mengangguk. Setiap keinginan sang raja bagaimana pun adalah sabda pandhita ratu, yang tidak bisa ditolak sedikit pun. Akhirnya terbentuklah pasukan Trisat Kenya yang seperti sekarang tengah berjalan dengan langkah tegap menaiki bukit di timur alun-alun.
Sepuluh Trisat Kenya yang berbaris paling depan adalah pembuka jalan.
Di belakangnya, sepuluh abdi dalem laki-laki bertelanjang dada tanpa
dibekali senjata, menggotong tandu besar berisi kursi raja yang terbuat
dari jati yang berat, lengkap dengan atapnya yang berumbai sutera dan
bordiran benang emas. Di sekeliling raja, tigapuluh anggota Trisat Kenya
berjaga. Ada yang membawa pedang, keris, tombak, dan juga tulup,
sejenis sumpit panjang yang diisi dengan panah kecil yang ujungnya
beracun. Masing-masing Trisat Kenya punya keahlian berbeda dalam
penggunaan senjata dan juga ilmu kanuragannya.
Pelan tapi pasti, rombongan raja itu bergerak menaiki puncak
perbukitan. Beberapa lelaki tua pembawa tiang obor setinggi dua tombak
berada paling depan membuka jalan. Di bagian paling belakang juga
ditutup sejumlah abdi dalem laki-laki sepuh memegang tiang
obor. Ketika singgasana diturunkan di tempat yang paling tinggi, para
abdi dalem laki-laki semuanya langsung turun kembali ke bawah bukit.
Demikian pula dengan yang membawa obor. Sehingga sekarang hanya ada sang
raja yang duduk dengan pongahnya di atas singgasana, dikelilingi
empatpuluhan Trisat Kenya lengkap dengan senjatanya.
Suasana kemudian bertambah hening. Kesenyapan selama beberapa menit
itu sungguh-sungguh meremas jantung. Semua mata memandang ke atas bukit,
menanti apa yang hendak dilakukan atau diperintahkan oleh sang raja.
Untuk beberapa lama sang raja hanya duduk diam di atas singgasananya.
Mungkin dia tengah menikmati lautan jubah putih yang memenuhi alun-alun
yang berada di bawah kakinya. Entah apa yang ada di dalam benaknya
ketika itu.
Dyah Jayengsari, Ki Ageng Ludhira, dan ribuan orang lainnya yang
masih duduk di alun-alun melihat dari kejauhan ketika Susuhunan
Amangkurat I mulai bergerak turun dari singgasananya. Dia berjalan
beberapa langkah ke depan, dan berdiri dengan kedua tangan berkacak
pinggang.
Raja lalim itu terus berdiri dengan tegak. Kedua tangannya masih
berkacak pinggang. Dia mengedarkan pandangan ke bawah kakinya, menyapu
seluruh areal alun-alun kratonnya. Bibirnya yang menghitam mencibir.
Sorot matanya yang dipenuhi dendam kesumat berbinar-binar tanda puas.
Kepalanya mengangguk-angguk. Dengan tangan kanan masih berkacak
pinggang, tiba-tiba tangan kirinya diangkat ke atas tinggi-tinggi.
Sebuah perintah yang hanya dipahami seluruh pasukannya yang sedari sore
telah siap dengan senjatanya.(bersambung)
(http://www.eramuslim.com/kisah/untold-history-of-pangeran-diponegoro-2.htm#.VeLWXUb9bcc)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar